Wednesday, 27 August 2008

[Cerpen] Liburan yang Tak Terlupakan

“Kodok”, begitulah teman-temanku memanggil diriku. Bahkan aku sendiri tidak ingat mengapa aku bisa djuluki seperti itu. Aku adalah pelajar kelas 2 SMA di sekolah yang cukup bergengsi di wilayah Jakarta Timur. Bukannya sombong, tapi di sekolahku aku cukup terkenal karena keahlianku bermain futsal. “Soulmate” adalah nama julukan kelasku saat berada di kelas 2 ipa 4 ini. Kini semester 1 akan segera berakhir, dan teman-teman sekelasku mengadakan rencana untuk berlibur bersama.


          Secara kebetulan, menjelang akhir semester 1, tempat rekreasi “Dunia Fantasi” atau “Dufan”, yang berada di Ancol, sedang memberikan diskon harga tiket masuk. Diskon tersebut ckup besar, hampir setengah harga. Maka, para anggota “Soulmate” pun setuju untuk berlibur ke Dufan.

          Tak lama setelah keputusan tersebut, temanku yang bernama Dika atau biasa dipanggil “Chiken” atau “Ayam”, mengajakku untuk berlibur ke Dufan juga, tetapi bersama rombongan teman-temanku kelas 1 dulu yaitu rombongan “Enfoxta”. “ Wah kebetulan, “Soulmate” juga merencanakan hal yang sama kok, Ken”, ujarku setelah mendengar informasi dari si Chiken. “ Eh dok, kita nanti berangkat bareng “Enfoxta” aja ntar kan disana tetap bisa gabung dengan “Soulmate” “. Aku menyetujui pendapat si Chiken, dan merencanakan untuk berangkat bersama rombongan “Enfoxta”.

          Akhirnya yang direncanakan telah tiba. Tak seperti biasanya aku bangun pagi sekali karena takut telat berkumpul. Aku akan berangkat bersama rombongan “Enfoxta” yang berkumpul jam 8 pagi. Akan tetapi, aku tak jadi berangkat pagi karena ibuku menyuruhku untuk belanja dulu ke pasar. Akhirnya aku sampai di tempat berkumpul jam  setengah sepuluh pagi.

          Saat di sana aku melihat chiken membawa sepeda motor, aku juga melihat Atung dan teman-temanku yag lain membawa motor. Lalu si Chiken mengajakku untuk ke Ancol naik motor bersamanya. Aku setuju saja untuk menghemat ongkos. Akhirnya aku tidak jadi berangkat bersama “enfoxta” yang akhirnya pergi dengan mobilnya July.

          Dalam perjalanan menuju ke sana telah bebrapa kali aku bersama Chiken hampir nyasar. Di antara kami tidak ada yang tahu betul jalan menuju Ancol, jadi kami mengikuti Atung dan yang lainnya saja. Saat melewati suatu lampu merah di suatu jalan tiba-tiba ada seorang polisi yang mengendarai motor besar memepetkan motor kami.

Aku berpikir kesalahan apa gerangan yang kami lakukan. Seingatku aku memakai helm  dan yang lainnya pun komplit. Setelah kami berhenti, polisi itu mendekat lalu memberi hormat dan mengucapkan salam dengan nada khas polisi. Setelah itu ia baru memberitahukan bahwa kami baru saja menerobos lampu merah yang sedang berwarna merah. Kami tidak fokus karena mengikuti Atung dan yang lain  sehingga tidak melihat lampu merah dan polisi yang sedang nongkrong disana.

Setelah perbincangan yang menghabiskan waktu beberapa menit, akhirnya kami melanjutkan perjalanan dengan kehilangan uang empat puluh ribu rupiah, tetapi SIM nya Chiken tetap aman pada dompetnya. Sesampai di sana kami bertemu rombongan lain di masjid Ancol.

Chiken, Atung dan yang lain melaksanakan sholat jum’at terlebih dahulu, sedangkan aku yang nasrani menunggu mereka sambil makan siang. Setelah mereka selesai sholat jum’at, giliran mereka yang makan siang.

Saat waku makan tersebut, aku bergurau dengan salah satu kawanku Ogi. Dia agak kesal nampaknya dan mengajarku. Setelah dekat dia mendorongku, tapi dorongannya pelan sambil bercanda . Setelah didorong olehnya langkahku berjalan mundur hingga kakiku terasa terganjal sesuatu yang keras. “ Aku bisa jatuh terlentang, nih”, begitu pikirku. Jadi aku memakai tanganku untuk menahan agar aku tidak jatuh terlentang. Akan tetapi, kok aku merasa aneh karena bukan tanah atau aspal yang tanganku kurasakan melainkan air yang dingin. Setelah itu,  sepersekian detik kemudian.....”Byuuuuuurrr”, aku tercemplung ke dalam parit di sebelah masjid.

 “Bwaaah” teriakku sambil bergaya seperti orang yang muncul kepermukaan air sehabis menyelam, atau begitulah yang diihat teman-temanku saat itu. Atung yang sedang melamun pun seketika tertawa geli melihatku, begitu juga yang lainnya. Sial nasibku, tapi entah kenapa aku tidak begitu kesal. Mungkin karena semua tertawa melihatku. Ogi pun meminta maaf padaku dan meminjamkan celana gantinya kepadaku. Begitu pula Chiken yang meminjamkan baju padaku.

 Aku meminta izin kepada pengurus masjid di sana untuk menumpang mandi. Akan tetapi pengurus masjid di sana mengatakan,” Emangnya air murah mau numpang mandi”. Waduh, pelit amat nih orang, tapi setelah itu Chiken menjelaskan peristiwa yang terjadi dan akhirnya aku diperbolehkan menumpang mandi.

Setelah selesai mandi dan bertukar pakaian kami melanjutkan perjalanan ke Dufan. Disana tidak terjadi hal-hal seekstrim yang menimpaku tadi dan semuanya fun-fun  saja hingga kami pulang jam tujuh malam. Satu hal yang paling kuingat saat ke Dufan yaitu saat Chiken naik wahana “Rajawali” bersamaku. Dia takut ketinggian, karenanya ia terus menunduk. Saat wahana telah turun kembali dia tetap menunduk, lalu aku diam-diam turun dan meninggalkan chiken sendiri. Wahana naik lagi dan nampaknya Chiken belum sadar kalau aku tinggal, lalu aku miscall dia dan dia tersadar bahwa dia sendirian di atas wahana itu. Wahahahaha….., kami tertawa dari bawah sambil membayangkan wajah Chiken saat itu.
Comments
6 Comments

6 comments :

Berkomentarlah dengan bahasa yang sopan. Jangan ngajakin berantem, apalagi sok2an bawa pasukan demi berantem di komentar ^_^
Your comment will help me make better article for this blog :)

  1. he? warnanya jadi abu2 ya?
    ga tau nih suka aneh sendiri :(
    kalo mau baca di blok aja dulu

    ReplyDelete
  2. "dia tersadar bahwa dia sendirian di atas wahana itu."

    pasti mukanya merah terbakar hahaha...... :D
    tpi kalian juga ga kasian ke dia ??

    ReplyDelete
  3. hihi kasian
    kalo kamu kaya gitu gmn yan? :p
    njerit kali ye xD

    ReplyDelete
  4. hus!! jangan dibahas di sini mia. malu nih..... :*

    ReplyDelete
  5. kasian sih mba... cuma mau digimanain lagi... emang udah takdirnya begitu
    jiahahahahaha XDD

    ReplyDelete